Contoh Proposal PTK SD Kelas 4 : Peningkatan Hasil Belajar Matematika dg Pendekatan Matematika Realistic

127
SHARES
2.1k
VIEWS

ArtikelTerkait

PENINGKATAN
HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA MATERI PECAHAN DAN OPERASINYA DENGAN MENGGUNAKAN
PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK (MR) PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI GENENG 2
KECAMATAN MIJEN KABUPATEN DEMAK


BAB
I

PENDAHULUAN

A.      LATAR
BELAKANG

Menghadapi era globalisasi yang diiringi dengan
perkembangan IPTEK yang sangat pesat, seseorang dituntut untuk mampu
memanfaatkan informasi dengan baik dan cepat. Sehingga dibutuhkan Sumber Daya
Manusia (SDM) yang berkualitas dan bernalar tinggi serta memiliki kemampuan
untuk memproses informasi sehinga sehinga dapat digunakan untuk mengembangkan
IPTEK. SDM Indonesia masih mengalami kekurangan dalam menciptakan teknologi
yang semakin maju seperti sekarang. Kurangnya SDM yang berkualitas disebabkan
oleh pemahaman terhadap suatu ilmu yang masih kurang maksimal, terutama
ilmu-ilmu yang berkaitan dengan teknologi yang mendasar sepert matematika.

Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai
objek yang bersifat abstrak, artinya objek matematika berada dalam alam pikiran
manusia, sedangkan realisasinya dengan menggunakan benda-benda yang berada
disekitar kita. Sifat abstrak ini menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam
matematika. Banyak siswa menganggap bahwa matematika itu sulit. Selama ini guru
seakan – akan menjadi pemegang kekuasaan secara penuh di kelas. Guru sebagai
objek dan siswa sebagai objek. Pembelajaran terjadi satu arah, siswa hanya
sebagai penerima materi saja.

Pembelajaran matematika di kelas IV SD N Geneng 2
masih didominasi oleh guru. Guru memberikan materi dengan metode ceramah. Pada
akhir penyampaian materi guru memberikan pertanyaan kepada siswa tentang
kepahaman siswa, sebagaian besar siswa tidak menjawab. Guru memberikan
kesempatan siswa untuk bertanya namun siswa diam. Pada akhir pembelajaran guru
memberikan soal latihan kepada siswa dan siswa diminta mengerjakannya.

Berdasarkan hasil pengamatan nilai ulangan kelas IV SD
Negeri Geneng 2, Hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika materi
penjumlahan dua pecahan yaitu dari 20 siswa, tedapat 5 siswa mendapat nilai
≥65, sedangkan 15 siswa mendapat nilai ≤65. Dapat disimpulkan bahwa hanya 25%
siswa dapat mencapai KKM dan 75% belum mencapai KKM.

Berdasarkan hasil fakta di kelas IV SD Negeri Geneng 2
dan hasil konsultasi dengan dosen pembimbing, maka perlunya penerapan
pendekatan pembelajaran yang tepat sebagai proses pembelajaran matematika.
Salah satu pendekatan pembelajaran matematka yang berorientasi pada
matematisasi pengalaman sehari-hari (mathematize
of everyday experience)
dan menerapkan matematika dalam kehidupan
sehari-hari adalah pendekatan Matematika Realistik (MR). Pembelajaran
Matematika Realistik (MR) memberikan kesempatan siswa untuk menemukan kembali
dan mengkontruksi konsep-konsep matematika pada masalah realistik yang diberikan
oleh guru. Situasi realistik dalam masalah memungkinkan siswa menggunakan
cara-cara informal (cara mereka sendiri dengan pengalaman) untuk menyelesaikan
masalah.

B.       IDENTIFIKASI
MASALAH

Berdasarkan hasil penelitian yang saya lakukan di
kelas IV SD Negeri Geneng 2 banyak sekali penyebab kurangnya hasil belajar
matematika materi penjumlahan dua pecahan, diantaranya :

1.     
Guru
masih menggunakan pendekatan lama yaitu ceramah

2.     
Guru
masih berpatokan menggunakan textbook dalam menyampaikan materi.

3.     
Guru
tidak menghubungkan materi dengan dunia nyata siswa.

4.     
Siswa
kurang aktif dalam pembelajaran.

5.     
Guru
hanya mengukur keberhasilan pembelajaran dari hasil tes ulangan siswa.

C.      BATASAN
MASALAH

Penelitian ini dibatasi pada pelaksanaan pembelajaran
matematika dengan pendekatan matematika realistik pada siswa kelas IV SD Negeri
Geneng 2, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak pada materi pecahan dan operasinya.
Pengamatan lebih difokuskan pada keterlaksanaan proses pembelajaran dengan
pendekatan matematika realistic sebagai upaya peningkatan hasil belajar materi
pecahan dan operasinya.

D.      RUMUSAN
MASALAH

Berdasarkan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri
Geneng 2 materi penjumlahan dua pecahan dapat dirumuskan masalah sebagai
berikut :

1. Bagaimana
penggunaan pendekatan Matematika Realistik pada materi pecahan dan operasinya di
kelas IV SD Negeri Geneng 2?

2.   Bagaimana
peran dan minat siswa terhadap penggunakan pendekatan Matematika Realistik pada
materi pecahan dan operasinya di SD Negeri Geneng 2?

3.   Bagaimana
hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri Geneng 2 pada materi pecahan dan
operasinya setelah menggunakan pendekatan Matematika Realistik?

E.       TUJUAN
PENELITIAN

1.  Menerapkan
pendekatan Matematika Realistik di kelas IV SD Negeri Geneng 2 pada materi pecahan
dan operasinya.

2.   Mengetahui
peran dan minat siswa kelas IV SD Negeri Geneng 2 terhadap pendekatan
Matematika Realistik pada materi pecahan dan operasinya.

3.   Mengetahui
hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri Geneng 2 pada materi pecahan dan
operasinya.

F.       MANFAAT
PENELITIAN

       Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini
adalah :

1.     
Secara
Teoritis

Menjadi bahan informasi ilmiah bagi praktisi
pendidikan mengenai pembelajaran menggunakan pendekatan Matematika Realistik
serta dapat menjadikan referensi dalam upaya pengoptimalan pembelajaran
matematika materi pecahan dan operasinya.

2.     
Secara
Praktis

a.     Bagi
peneliti dan guru

Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan pendekatan
pembelajaran yang tepat pada materi pecahan dan operasinya.

b.     Bagi
sekolah

Sebagai masukan dan dasar pemikiran untuk
mengoptimalkan pembelajaran matematika sesuai dengan pendekatan yang tepat.

c.      Bagi
pembaca

Memberikan
informasi tentang pelaksanaan pembelajaran matematika materi pecahan dan
operasinya menggunakan pendekatan matematika realistik.

G.      BATASAN
ISTILAH

Untuk menghindari penafsiran yang berbeda terhadap
istilah-istilah dalam penelitian ini, berikut di jelaskan istilah-istilah
sebagai berikut ini :

1.   Peningkatan
hasil belajar adalah upaya yang dilakukan untuk menciptakan hasil belajar yang
lebih optimal.

2.  Peningkatan
hasil belajar dikatakan berhasil apabila siswa paham dengan materi yang
diberikan oleh guru dengan ditandai minimal 75% siswa meningkat hasil
belajarnya dan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran meningkat.

BAB
II

KAJIAN
PUSTAKA

A.    HAKIKAT
BELAJAR

a.      
Pengertian
Belajar

Belajar pada hakikatnya adalah proses
interaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar dapat
dipandang sebagai proses yang diarahkan kepada tujuan dan proses berbuat melui
pengalaman.

Surya,
Mohammad (1992 : 23), definisi belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan
individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan,
sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan
lingkungan.

Perubahan yang terjadi dalam diri
seseorang banyak sekali, baik sifat maupun jenisnya, karena tidak setiap
perubahan dalam diri seseorang merupakan perubahan dalam arti belajar. Menurut
Slameto (2010 : 3-5), ciri-ciri perubahan tingkah laku yang termasuk dalam
pengertian belajar, yaitu : (1) perubahan
yang terjadi secara sadar,
artinya seseorang yang belajar akan menyadari
terjadinya perubahan itu, atau paling tidak dia merasakan bahwa dalam dirinya
telah terjadi perubahan; (2) perubahan
dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional,
artinya suatu perubahan yang
terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya 
dan akan berguna lagi bagi kehidupan ataupun proses belajar berikutnya;
(3) perubahan dalam belajar bersifat
positif dan aktif,
artinya perubahan-perubahan itu senantiasa bertambah dan
tertuju untuk memperoleh sesuatu lebih dari sebelumnya; (4) perubahan dalam belajar bukan bersifat
sementara,
artinya bahwa tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan
bersifat menetap; (5) perubahan dalam
belajar bertujuan atau terarah,
artinya bahwa perubahan tingkah laku itu
terjadi karena ada tujuan yang akan dicapai; dan (6) perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku, artinya bahwa
perubahan yang diperoleh seseorang melalui proses belajar.

Kesimpulan dari penjelasan mengenai
defininisi belajar adalah proses perubahan tingkah laku akibat dari perbuatan
yang sengaja maupun tidak sengaja berdasarkan dari pengalaman-pengalaman yang
telah dimilikinya yang berguna untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

b.     
Faktor-faktor
yang mempengaruhi belajar

Menurut Slameto (2010 : 54), ada beberapa
factor yang mempengaruhi belajar, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri
individu (intern) dan faktor yang berasal dari luar individu (ekstern).

Dalam faktor intern dikelompokkan menjadi
3 faktor antara lain factor jasmaniah yang meliputi kesehatan dan cacat tubuh,
factor psikologis yang meliputi intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif,
kematangan, dan kesiapan sedangkan faktor terakhir adalah faktor kelelahan.

Dalam faktor ekstern yang mempengaruhi
hasil belajar dikelompokkan menjdi 3 faktor yaitu : faktor keluarga, faktor
sekolah dan faktor masyarakat. Faktor keluarga meliputi orang tua, relasi
anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua
dan latar belakang kebudayaan. Faktor sekolah meliputi metode mengajar yang dilakukan
oleh guru, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa,
disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas
ukuran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah. Sedangkan di dalam
faktor masyarakat hal yang mmpengaruhi belajar siswa antara lain kegiatan siswa
di masyarakat, mass media, teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakat.

            Dari uraian mengenai faktor yang
mempengaruhi belajar siswa dapat dikatakan bahwa antara faktor intern yang
berasal dari dalam diri siswa dan faktor ekstern yang berasal luar diri siswa
memiliki hubungan yang sangat erat dan keduanya saling mempengaruhi.


BACA JUGA

Contoh Proposal PTK SD Kelas 4 : Peningkatan Hasil Belajar Matematika dg Pendekatan Matematika Realistic

Contoh Proposal Skripsi Kuantitatif Pendidikan : Pengaruh Model pembelajaran Jig Saw dan STAD Terhadap Hasil Belajar

Contoh Penelitian TIndakan Kelas PAUD : Peningkatan Keterampilan Bicara Anak Usia 3-4 Tahun

Contoh Proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Media Patung

Download Kumpulan Contoh Skripsi Penelitian dan Pengembangan (R&D) Jurusan PGSD

Contoh Judul Skripsi Kualitatif PGSD Tahun 2016 (Download Filenya Dengan Sekali KLIK)

Download Contoh PTK SD Lengkap Kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 MUDAH DOWNLOAD 1 x KLIK!!

Download 101 Contoh Skripsi Penelitian Kuantitatif (PDF) PGSD Dengan Sekali KLIK!!!

Download Contoh Skripsi Pendidikan PGSD Lengkap FIle PDF Sekali KLIK

100 Contoh Judul Penelitian Kualitatif PGSD Berkualitas! dan Cara Membuat Judul Penelitian

CONTOH PROPOSAL SKRIPSI KUANTITATIF PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH


B.     HAKEKAT
HASIL BELAJAR

a.        
Pengertian
Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan peristiwa yang bersifat
internal, yang terjadi di dalam diri seseorang. Peristiwa tersebut dimulai dari
adanya perubahan kognitif atau pengetahuan kemudian berpengaruh kepada
perilaku. Perilaku belajar seseorang didasarkan pada tingkat pengetahuan
terhadap sesuatu yang dipelajari kemudian dapat diketahui melalui tes.

Menurut Dimyanti dan Mudjiono (2006:3-4) hasil
belajar  merupakan hasil dari suatu
interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Hasil interaksi itu menyebabkan
perubahan perilaku individu yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan
psikomotorik. Perubahan tingkah laku tersebut diperoleh setelah siswa
menyelesaikan program pembelajarannya melalui interaksi dengan berbagai sumber
belajar dan lingkungan belajar.

b.       
Faktor
yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Hasil belajar yang dicapai siswa
dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor dari dalam diri siswa (faktor
internal) dan faktor yang dating dari luar diri siswa (faktor eksternal).
Faktor yang berasal dari dalam diri siswa meliputi kemampuan yang dimilikinya ,
motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan,
sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis. Sedangkan faktor yang berasal dari
luar diri siswa meliputi faktor lingkungan, terutama kualitas pengajaran.

C.      MATEMATIKA
REALISTIK (MR)

a.      
Hakekat
Pendekatan Matematika Realistik

Salah satu pembelajaran matematika yang
berorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari dan  menerpakan matematika dalam kehidupan
sehari-hari adalah Matematika Realistik (MR). Realistic Mathematica Education
(RME) merupakan teori belajar mengajar dalam pendidikan matematika. Teori RME
pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan di Belanda pada tahun 1970 oleh
Institut Freudenthal. Teori ini mengacu pada pendapat Freudenthal yang
mengatakan bahwa matematika harus dikaitkan dengan realita dan matematika merupakan
aktivitas manusia. Ini berarti matematika harus dekat dengan anak yang relevan
dengan kehidupan nyata sehari-hari. Matematika sebagai aktivitas manusia
berarti manusia harus diberikan kesempatan untuk menemukan kembali ide dan
konsep matematika dengan bimbingan orang dewasa, (Gravencher (Suharta, 1 : 2005).

Seperti yang dikatakan
Zulkardi (2001 : 1) bahwa Realistic Mathematic Education (RME) atau pendekatan
matematika realistik adalah teori pembelajaran yang bertitik tolak dari hal-hal
real. Realistic dalam hal ini
dimaksudkan tidak mengacu pada realitas tetapi
pada sesuatu yang dapat dibayangkan oleh siswa, Prinsip penemuan kembali dapat
diinspirasi oleh prosedur-prosedur pemecahan informal, sedangkan proses
penemuan kembali menggunakan konsep matematisasi.

Dua jenis
matematisasi diformulasikan oleh Traffers yaitu matematisasi horizontal dan
matematisasi vertical (Suharta, 1 : 2005). Dalam bermatematika secara
horizontal, siswa mengidentifikasi bahwa soal kontstektual harus ditransfer ke
dalam soal bentuk matematika untuk lebih dipahami. Menurut Gravemeijer dan
Traffers (Suharta,1: 2005) melalui penskemaan, perumusan, dan
pemvisualisasian,  siswa mencoba
menemukan dan hubungan soal dan mentransfernya kedalam bentuk model matematika
formal dan tidak formal. Peran guru adalah membentuk siswa menemukan
model-model formal dan nonformal dengan memberikan gambaran model-model yang
cocok untuk mempresentasikan soal tersebut.

Sedangkan dalam
matematika secara vertical, siswa menyelesaikan bentuk matematika formal atau
tidak formal dari soal kontekstual dengan menggunakan konsep, operasi dan
prosedur matematika yang berlaku dan dipahami siswa. Guru membantu siswa
menunjukkan hubungan dari rumus yang digunakan, membuktikan aturan matematika
yang berlaku, membandingkan model, menggunakan model yang berbeda,
mengkombinasikan dan menerapkan model, serta merumuskan konsep matematika dan
menggeneralisasikannya.

b.     
Langkah-Langkah
Pembelajaran Matematika Realistik

Wahyudi dan Kriswandani (2007 : 52) mengemukakan bahwa
langkah-langkah pembelajaran dalam pendekatan matematika realistic adalah
sebagai berikut :

1.     
Memahami
masalah / soal konteks, guru memberikan masalah / persoalan kontekstual dan
meminta peserta didik untuk memahami masalah tersebut.

2.   Menjelaskan
masalah kontekstual, langkah ini dilakukan apabila ada peserta didik yang belum
paham dengan masalah yang diberikan.

3.     
Menyelesaikan
masalah secara kelompok atau individu.

4.  Membandingkan
dan mendiskusikan jawaban. Guru memfasilitasi diskusi dan menyediakan waktu
untuk membandingkan dan mendiskusikan jawaban dari soal secara kelompok.

5.     
Menyimpulkan
isi diskusi.

D.    PECAHAN

Menurut Mustaqim dan Ary (2008 : 163), pecahan
merupakan bagian dari keseluruhan. Materi pecahan adalah salah satu materi yang
di ajarkan pada kelas IV Sekolah Dasar. Adapun materi yang dipelajari dalam
pecahan meliputi :

1.     
Menjelaskan
arti pecahan dan urutannya, meliputi :

a.      
Mengidentifikasi
pecahan sebagai bagian dari keseluruhan.

Contoh
:

1
bagian lingkaran dibagi menjadi 4 bagian. Jadi masing-masing bagian tersebut
bernilai seperempat atau dapat ditulis

b.     
Mengurutkan
pecahan

Jika
terdapat beberapa pecahan yang berpenyebut sama, maka untuk mengurutkan pecahan-pecahan
itu cukup dengan mengurutkan pembilangnya saja.

2.     
Menyederhanakan
berbagai bentuk pecahan

a.      
Mengidentifikasi
pecahan yang senilai.

Pecahan
senilai dapat dicari dengan mengalikan pembilang dan penyebut dengan bilangan
yang sama

Contoh
:

  senilai dengan  =

b.     
Menyederhanakan
pecahan

Pecahan
paling sederhana diperoleh dengan membagi pembilang dan penyebut yang sama.

Contoh
:

 =  =

3.     
Penjumlahan
pecahan

a.      
Melakukan
penjumlahan pecahan berpenyebut sama.

Penjumlahan
pecahan yang berpenyebut sama dilakukan dengan menjumlahkan pembilang-pembilangnya,
sedangkan penyebutnya tetap. Kemudian tuliskan hasilnya dalam bentuk paling
sederhana.

Contoh
:

 +  =  =

b.     
Melakukan
penjumlahan pecahan berpenyebut tidak sama.

Penjumlahan
pecahan yang berpenyebut berbeda dilakukan dengan cara menyamakan penyebutnya
dengan KPK kedua bilangan, jumlahkan pecahan baru seperti pada penjumlahan
pecahan berpenyebut sama.

Contoh
:

 +  =  =

4.     
Mengurangkan
pecahan

a.      
Melakukan
pengurangan pecahan berpenyebut sama.

Pengurangan
pecahan yang berpenyebut sama dilakukan dilakukan dengan mengurangkan
pembilang-pembilangnya, sedangkan penyebutnya tetap. Kemudian tuliskan hasilnya
dalam bentuk paling sederhana.

Contoh
:

 –  =  =  =

b.     
Melakukan
pengurangan pecahan berpenyebut tidak sama.

Aturan
pengurangan pecahan yang berbeda penyebutnya yaitu samakan penyebutnya dengan
KPK kedua bilangan, kemudian kurangkan pecahan baru seperti pada pengurangan
pecahan berpenyebut sama.

Contoh
:

 –  =  =

5.     
Menyelesaikan
yang berkaitan dengan pecahan.

Contoh
:

Ibu
membeli sebuah kue besar, kue tersebut di bagikan kepada anaknya yang berjumlah
2 orang. Berapa jumlah yang diperoleh masing-masing anak?

Jawab
:

1
kue dibagikan 2 anak, masing-masing mendapat 


E.     PENELITIAN
TERDAHULU

Pembelajaran matematika dengan menerapkan pendekatan
matematika realistik merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan hasil belaja
siswa dalam pembelajaran materi pecahan. Usaha ini dilakukan sehubungan dengan
adanya kesenjangan antara materi yang dicita-citakan oleh kurikulum tertulis
(intended curriculum), serta perbedaan materi yang diajarkan dengan materi yang
dipelajari siswa (relized curriculum).

Penelitian yang dilakukan oleh Soviawati, Evi tentang Pendekatan Matematika Realistik (PMR) untuk
Meningkatkan Kemampuan Berfikir Siswa di Tingkat Sekolah Dasar
, hasilnya
antara lain siswa tidak hanya mudah mengusai konsep dan materi pelajaran namun
juga tidak cepat lupa dengan konsep dan materi yang telah diperolehnya.
Pendekatan ini tepat diterapkan dalam mengajarkan konsep-konsep dasar supaya
siswa mampu meningkatkan kemampuan berfikrnya yang akhirnya bermuara pada
meningkatnya hasil belajar siswa.

Penelitian Romauli, Mika tentang Pengaruh Pembelajaran Matematika Realistik dan Berpikir Logis terhadap
Hasil Belajar Matematika Siswa SD Bharlind School Medan
, hasilnya antara
lain terdapat perbedaan antara hasil belajar siswa yang diajarkan dengan
Pendekatan Matematika Realistik dengan cara kelompok dan cara individu. Hasil
belajar yang diajarkan dengan PMR cara kelompok lebih tinggi dibandingkan
dengan PMR yang diajarkan secara individu.

Penelitian Zulkardi dan Ilma, Ratu, tentang Desain Bahan Ajar Penjumlahan Pecahan
Berbasis Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) untuk Siswa Kelas IV
Sekolah Dasar Negeri 23 Indralaya
, hasilnya antara lain proses pembelajaran
siswa dengan menggunakan bahan ajar penjumlahan pecahan berbasis PMRI sangat
menuntun siswa untuk mengembangkan ide-ide dan menumbuhkan kreativitas siswa
dalam menyelesaikan masalah, dilihat dari proses yang dilakukan siswa dalam
menyelesaikan masalah.

F.     KERANGKA
PIKIR PENELITIAN

Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai
kajian objek yang abstrak. Sifat abstrak ini menjadikan banyak siswa kesulitan
dalam matmatika. Pembelajaran matematika saat ini lebih cenderung bagaimana
matematika dapat diaplikasikan dalam dunia nyata bukan sebaliknya objek nyata
digunakan sebagai membentuk konsep matematika. Kegiatan pembelajaran matematika
yang kurang terikat dengan kehidupan nyata dan alam pikiran siswa sering
menjadikan matematika yang kurang dipelajari kurang bermakna dan kurang
menarik.

Pendekatan matemtika realistik dapat membantu
mengkonkretkan konsep-konsep matematika yang abstrak. Salah satu pembelajaran
matematika yang beorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari serta
menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah pendekatan
pembelajaran matematika realistik (MR). Dengan penerapan pendekatan
pembelajaran matematika realistic (MR) diharapkan siswa lebih mudah menangkap
dan memahami konsep matematika yang nantinya bermuara pada peningkatan hasil
belajar siswa.


BAB
III

METODOLOGI
PENELITIAN

Penelitian Peningkatan Hasil Belajar
Matematika pada Materi Pecahan dan Operasinya 
dengan Menggunakan Pendekatan Matematika Realistik (MR) pada Siswa Kelas
IV SD Negeri Geneng 2, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak ini merupakan jenis
Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini bertujuan
untuk mengatasi suatu permasalahan atau memperbaiki suatu pembelajaran di dalam
kelas.

A.    PENDEKATAN
DAN JENIS PENELITIAN

Penelitian tindakan ini mengambil bentuk
penelitian tindakan kelas kolaborasi, dimana peneliti berkolaboasi dengan guru
yang tergabung dalam satu tim untuk melakukan penelitian dengan tujuan untuk
memperbaiki kekurangan-kekurangan dalam praktik pembelajaran. Hubungan antara
peneliti dan guru bersifat kemitraan, sehingga kedudukan peneliti dan guru
adalah sama untuk mengupayakan persoalan-persoalan yang akan diteliti. Dengan
demikian peneliti dituntut untuk bisa terlibat secara langsung dalam PTK ini.
Adapun yang melaksanakan pembelajaran adalah siswa dan peneliti, sedangkan guru
sebagai pengamat.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian
ini adalah pendekatan penelitian kualitatif, dimana pengambilan data dilakukan
secara alami dan data yang diperoleh berupa kata-kata dan gambar. Sesuai dengan
pengertian penelitian kualitatif yaitu penelitian yang bermaksud untuk memahami
fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku,
persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain secara holistic dengan cara
deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang
alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.

B.     WAKTU
DAN TEMPAT PENELITIAN

1.     
Waktu
Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada semester ganjil tahun
ajaran 2015-2016 yaitu pada Oktober sampai Desember 2015.

2.     
Tempat
Peelitian

Penelitian ini di lakukan di kelas IV SD Negeri Geneng
2, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak.

C.    DESAIN
PENELITIAN

Desain penelitian ini menggunakan desain
penelitian tindakan kelas yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Taggart. Model
visualisasi bagan yang disusun oleh Kemmis dan Mc Taggart adalah sebagai
berikut :

a.      
Perencanaan
atau planning

Rencana penelitian tindakan merupakan tindakan yang
terstruktur dan terencana namun tidak menutup kemungkinan untuk mengalami
perubahan sesuai situasi dan kondisi yang tepat.

b.     
Tindakan
atau acting

Yang dimaksud tindakan atau acting dalam penelitian ini adalah tindakan yang dilakukan secara
sadar dan terkendali yang merupakan variasi praktek yang cermat dan bijaksana.
Tindakan yang dilakukan berdasarkan pada perencanaan yang telah disusun sesuai
dengan perencanaan.

c.      
Observasi
atau observing

Observasi pada tindakan ini berfungsi untuk
mendokumentasikan hal-hal yang terjadi selama tindakan.

d.     
Refleksi
atau reflecting

Refleksi adalah mengingat dan merenungkan kembali
sutau tindakan yang telah dilakukan sesuai dengan hasil observasi.

D.    INSTRUMENT
PENELITIAN

Instrument penilaian adalah alat atau
fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar
pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, dan
sistematis sehingga lebih mudah diolah. Dalam penelitian ini, untuk kepentingan
mengumpulkan data digunakan beberapa instrument, antara lain: